Marilah Kita Berkaca

Posted on September 1, 2010

0


Belum lama ini saya menghadiri pemakaman dari salah atu anggota keluarga,Waktu melayat wajah yang sudah tidak bernyawa itu nampak pucat,tidak ada lagi kehidupan padanya.Begitulah………apabila sudah tiba saatnya,kita akan menjadi demikian,Wajah yang pernah dirawat2,kuku yang pernah di manicure,Badan yang di oles2 dengan cream maupun reramuan lainya,sekali waktu akan menjadi satu dengan tanah.

Apabila kita berkaca,lalu sejenak membayangkan bahwa wajah yang sudah di olesi dengan make-up,satu ketika akan berubah menjadi tulang belulang.Maka mungkin saja kita tidak akan terlalu di pengaruhi oleh kehidupan yang lebih banyak ditekankan pada nilai materi,pangkat ataupun bentuk keberhasilan lainya.Memang adalah kewajiban manusia untuk membanting tulang mengejar prestasi selama masih ada hayat di kandung badan.Tapi sering kali dalam mengejar prestasi ,kita lupa bahwa se waktu2 napas itu dapat diputuskan dan tidak ada satupun dari apa yang sudah dicapai itu akan di bawa serta dalam liang lahat,kecuali amal kebaikan.Saya bukanya mau mengajak anda  berpikir tentang mati,tapi marilah kita bersama-sama sesekali waktu berkaca,mengatakan pada diri sendiri  : “apa yang kau lihat di kaca itu ,sewaktu-waktu akan berubah menjadi tengkorak”.Manakala sudah dalam keadaan begitu,maka tidak ada kesempatan lagi untuk saling sayang,tidak ada lagi kesempatan lagi untuk berbuat kebaikan.tidak ada lagi untuk saling memaafkan.

Adakalanya kita dalam kehidupan ini menjadi begitu kikir,sehingga kata2 yang manis rasanya sukar untuk diucapkan .Kita lebih mementingkan gengsi dari pada pernyataan maaf setulusnya atupun pernyataan kasih sayang dan cinta yang mendalam,ataupun kebaikan.Apabila kita berkaca dan terpantul bahwa satu ketika wajah yang dirawat baik2 itu akan menjadi tengkorak ,maka kita tidak akan terlalu tamak .Karena menyadari bila maut tiba tidak ada satupun dari kekayaan yang di timbun dapat mencegahnya.Tidak ada satupun butiran berlian yang mempunyai nilai ,dan dalam liang lahat tentu kita tidak dapat lagi berkendara ,sehingga mobil2 itu tentu tidak di bawa serta.

Saya merasa kita masing2 tahu tentang mati ,bahwa apabila kita hidup pasti kita akam mati. Tidak ada yang kembali dari mati dan menceritakan pada kita mengenai dunia disana.Yang kita tahu hanyalah apabila sudah berada di seberang sana maka tidak ada lagi jalan kembali.Yang di tinggalkan begitu pula ,tidak mempunyai kesempatan lagi untuk berbuat sesuatu yang baik kepada yang di tinggalkanya.Pada saat begitu hanya ada batu nisan yang dingin………

Posted in: lain-lain